Tag Archives: ASI

Kai, Welcome into the Human Community

17 Oktober 2014

8pm ~

Usai jalan-jalan dari supermarket, muncul bercak darah dan pergi ke Rumah Sakit (RS). Ternyata pembukaan 1 dan flek darah sudah keluar ke-4 kalinya. Akhirnya pulang ke rumah.

18 Oktober 2014

Melahirkan Baby K

2am ~

Haus dan gerah padahal exhaust dan kipas menyala. Gumpalan lendir putih terlihat. Asyik, tanda-tanda kelahiran, pikirku. Sebentar lagi aku akan sering pipis, secara teori.

3am ~

Teori sering pipis gagal, namun merasakan kesemutan di area pinggul. Okey, aku catat intensitasnya per menit sesuai teori. Tak bisa tidur karena antusias dengan “kontraksi” yang diprediksikan terjadi semakin dekat. Tik-Tok-Tik-Tok…..Aha! merasakan mulas-mulas.

4am ~

Ternyata rasa mulas untuk ke WC! bukan mulas kontraksi. Prediksi kontraksi gagal lagi. Kok belum kencang-kencang di bagian perut ya.

6 am ~

Wuaaaaaaaa!! kesemutan semakin sering. Bangunin Ayah, “mandi dong, ayuk siap-siap ke RS”

8 am ~

Tiba di IGD lalu suster cek kondisi badan termasuk cek jalan lahir. Sudah pembukaan 5. Yes! Cek darah lalu jalan-jalan dulu (biar pembukaan lanjutan lebih cepat). “Mbak kok belum teriak-teriak sakit?” tanya suster — “Ada yang seperti itu ya bu?” timpal saya. “Yuuuk mbak, naik kursi roda saja, kita pilih kamar yang Mbak suka” ajak suster — “Okey bu, biar tampil seperti ibu-ibu kekinian hendak melahirkan ya”

11 am ~

Dokter masuk ke kamar. “Sudah kencang-kencang?” — “Belum dok, kesemutan serta rasa panas di pinggul”. Akhirnya dokter keluar kamar untuk membantu proses kelahiran pasien sebelum saya. Harap antri HEHEHEHE. Beberapa menit kemudian, Si dokter masuk kamar “Saya cek ya” — Pembukaan 8. “Kenapa tidak kesakitan?” –“Harus ya dok?” pertanyaan bego saya. Akhirnya calon ibu ini didorong ke ruang persalinan.

12pm ~

Suster menunggu, dokter tak ada. Terdengar teriakan dan raungan pasien sebelah. Ternyata dia sudah pembukaan 8. Saya semakin galau, karena diPHPin dokter. Sesekali suster menanyakan “Mbak sudah kenceng-kenceng sakit?” — “Duh! belum kenceng bu” jawab saya. Semakin galau dengan posisi berbaring terlentang di kasur persalinan yang tak nyaman, sakit punggung lah!.

13.30pm ~

Sensitif karena dokter belum datang dan meminta suami memasang video di kepala. Toh sebentar lagi saya melahirkan. Akhirnya dokter cek perut saya, wah belum kencang!. “Ayo suster dilatih mengejan” — “Mengejan bagaimana dok?!” tambah bego saja pertanyaan saya. — “Seperti berak kesusahan itu loh”. Nih, bagian susah dalam proses melahirkan.

Lalu dokter memutuskan untuk INDUKSI. Beberapa menit baru terasa Wuaaaaa!! ini toh namanya kontraksi. Menangis.

14pm ~

Oeeeeekkk Oeeeekkk Oeeeekkkkk… Lahirlah baby K dengan selamat dan lega rasanya menjadi Ibu. Welcome into the human community, baby K, mama papa love you!

Milk Travelling With Sriwijaya Air

SRIWIJAYA AIR

HOHOHO Pernahkah mendapat pengalaman berkesan dari penerbangan pertama bunda? Yup ini penerbangan pertama saya menggunakan Sriwijaya Air dengan membawa ASIP. (Air Susu Ibu Perah). Pertengahan Desember saya melakukan perjalanan SOC-CGK lalu CGK-DMK. Saat check in di SOC berlangsung, saya ditegur ground staff untuk menyimpan cooler box kapasitas 5L ke dalam bagasi pesawat dan memang aturan Sriwijaya Air hanya memperbolehkan membawa 1 tentengan berkapasitas 5kg ke dalam kabin. Perdebatan pun mulai…

  • Saya pernah membawa ASIP dengan maskapai Garuda Indonesia, Scoot, Tigerways dan Air Asia. Tidak ada satu pun dari groundstaff melarang saya membawa ASIP dalam kabin.
  • ASIP selalu lolos saat security check di bandara Bangkok, Singapore, Jakarta.
  • Menurut aturan SKEP/43/III/2007 – Tentang Penanganan Liquid Aerosol Gel dalam Penerbangan. Pasal 3 ayat 2 yang tertulis :

Persyaratan Cairan, Aerosol, dan Gel (Liquids, Aerosols and Gels) sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tidak berlaku untuk :
a. obat-obatan medis;
b. makanan / minuman / susu bayi ; dan
c. makanan / minuman penumpang untuk program diet khusus

  • Groundstaff tidak mengecek isi coolerbox saya. Isi coolerbox adalah blue gel dan ASIP dalam kondisi beku.

Akhirnyaaa groundstaff menghubungi bagian security, apakah ASI boleh dibawa ke kabin? Jawaban security  “ASI termasuk liquid sehingga dimasukkan ke bagasi”

Okay! debat pertama pun diakhiri dengan membungkus coolerbox dengan plastik  dan masuk dalam bagasi. Berhenti sampai disitu?? — TIDAK

Saya tetap menanyakan kepada groundstaff saat boarding check. Jawabanya? SAMA. Bagaimana jika terjadi kerusakan pada coolerbox dan isinya? Jawaban groundstaff “Ibu bisa melaporkanya ke pusat”.

Soekarno-Hatta Airport Belt 4, Jakarta

Seperti saya duga, coolerbox retak beberapa bagian dan blue ice sudah berubah lembek alias mencair. Alasan itulah yang saya khawatirkan jika transit di bandara Soe-Ta, penanganan pemindahan barang bagasi yang kurang baik. Padahal penerbangan lanjutan saya adalah DMK dengan lama perjalanan 3 jam. Melapor bagian pusat? tidak sempat! yang bisa dilakukan adalah menanyakan pertanggungjawaban mereka via media sosial.

Twitter Sriwijaya

Apakah pihak Sriwijaya akan bertanggung jawab??

Tunggu cerita lanjutanya ya bunda.. Coming soon!